Masjid Agung Bandung dan masa lalu

Wahhh… pa kabar semuanya?? lama tidak menulis di blog kesayangan (soalnya ada merger). Tak terasa udah tahun 2012 aja nih kemarin pada tahun baruan dimana?? gimana rame, pastinya macet dimana-mana tapi semua bisa terobati dengan kemeriahan pesta kembang api dan terompet tentunya.

Mengawali tulisan di tahun baru 2012 ini, tak terasa umur nih blog udah 2 tahun (pertama lahir pas acara pesta blogger 2009 ato 2010 ya sampe lupa, tp yang diinget sih hadiah kaosnya ama modem karena jadi pemenang dari kota Bandung.. he.. hee). Oke sebagai awal mari kita mengenal salah satu bangunan yang pertama dibangun pada saat pemindahan kota Bandung yaitu Masjid Agung Bandung.

Gambar Mesjid Agung oleh W. Spreat

Gambar Mesjid Agung oleh W. Spreat sebagai ilustrasi buku De Zieke Reiziger.

Mesjid Agung Bandung merupakan salah satu bangunan tertua di Bandung, dibangun tahun 1811/1812 seiring dengan pembangunan Negorij Bandong yang dipindahkan dari Krapyak. Bangunan asli sudah tidak ada karena renovasi sering dilakukan terhadapnya. Sejak bangunan awal yang hanya terbuat dari kayu dan bambu saja, kemudian tahun 1825 sempat diperkokoh dengan kayu, Perubahan besar dilakukan ketika bangunan ini direnovasi pada tahun 1850 oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874). Ketika itu bangunan ini sudah mulai menggunakan tembok sebagaimana diiliustrasikan dalam buku Rambles of Java karya Charles Walter Kinloch.

Masjid Agung sempat mengalami berbagai renovasi lagi di abad 20, dan istilah Bale Nyuncung mungkin baru dipakai tahun 1905 ketika sang Masjid menggunakan atap bertumpang tiga dan berujung lancip khas masjid Nusantara. Pada kondisi hasil perbaruan tahun 1930, tampak sekeliling mesjid diberi benteng tembok berlubang dengan motif sisik ikan. Motif yang sering dianggap gaya khas Bandung (Priangan) ini menurut kuncen Bandung, Haryoto Kunto, merupakan hasil rancangan MacLaine Pont, arsitek terkenal yang juga merancang kompleks utama kampus ITB. Motif sisik ikan juga dapat dilihat pada benteng tembok yang mengelilingi kompleks Pendopo dan rumah dinas Walikota Bandung, serta di kompleks makam bupati Dalem Kaum dan KarangAnyar. Seperti yang dapat dilihat pada bangunan Aula Barat dan Aula Timur ITB, karya-karya MacLaine Pont memang unik, merupakan gabungan teknologi Eropa dengan arsitektur bergaya Nusantara.

masjid agung bandung

Rambles of Java karya Charles Walter Kinloch.

Sejak tahun 1955 sampai Juni 2003 masjid Agung Bandung mengalami berbagai renovasi,dari “Kubah Bawang” karya Ir. Soekarno sampai sekarang yang bercita rasa timur tengah dan berganti nama menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat. Sebagai saksi hidup bagaimana kota Bandung “salin rupa” dari leuweung geledegan nepi ka heurin Ku tangtung.

Sumber : aluet.wordpress.com, postingan FB oleh M. Rizky Wiryawan

Dipublikasi di Home | Tinggalkan Komentar

Kolam renang Centrum, dihancurkan oleh keangkuhan

Bandung bersedih kembali, setelah penghancuran kolam renang pertama di Bandung dan Indonesia yaitu Pemandian Tjihampelas, kini keangkuhan itu terjadi kembali. Entah apa yang menjadi dasar perubahan (penghancuran) itu, yang pasti kebijakan dari pemegang kekuasaan yang harus dipertanyakan…

Kembali sejenak ke masa lalu, Kolam renang Centrum berdiri sekitar tahun 1920-an, dibangun dengan gaya arsitektur modern tropis Indonesia hasil rancangan arsitek ternama pada jamannya, yaitu C.P. Wolff Schoemaker. Pemandian ini dibangun di atas tanah seluas 3.200 m2 dengan luas bangunan 1.150 m2. Menurut Ahamad Sukarmin selaku pengurus tempat pemandian ini, dulu pemandian ini dibangun khusus untuk orang-orang Belanda yang tinggal atau pun hanya singgah di kota ini.

“Pada tahun 1948-an, warga negara Belanda berangsur-angsur pulang ke negeri asalnya, akhirnya tempat ini dipindahtangankan kepada seorang warga negara Indonesia keturunan Thiong Hoa, bernama R Tjandraprawira,” ujar Sukarmin. Baru sekitar tahun 1960-an tempat pemandian ini dipergunakan untuk umum. Setiap hari tempat pemandian ini buka dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, kecuali hari selasa dan hari libur nasional. Kebanyakan pengunjung adalah dari anak-anak sekolah mulai dari SD, SMP, hingga SMA, sedangkan pengunjung umum sangat sedikit sekali. Kolam renang ini berada di Jl. Belitung no. 10. Banyak cerita dan kenangan bersama kolam renang ini, terlalu sayang untuk dihapus dalam ingatan.

Bebarapa tahun kebelakang, kolam ini ditutup oleh pengelolanya, entah alasan apa yang mendasarinya. Saat ngAleut, kolam ini selalu terkunci dan apabila ditanyakan kepada pedagang sekitar jawabannya hanya dibuka oleh pengurusnya saja yang tidak tentu kapan datangnya.

Kolam renang ini diketahui sedang dibongkar oleh salah satu teman dalam postingan FB nya, dalam statusnya tersebut ia mengatakan bahwa kolam Renang Centrum akan dijadikan restoran atau pusat perbelanjaan. Seperti yang sudah-sudah terjadi terhadap penghancuran bangunan bersejarah di Bandung, develover pasti berbicara sudah mengantongi ijin (IMB). Lalu yang patut kita pertanyakan ijin tersebut pasti keluar dari pemegang kebijakan kota ini, siapa lagi ??? apakah beliau tidak tahu atau dengan “dalih pavoritnya” bukan termasuk cagar budaya yang dilindungi UU. Kalau menurut Perda no. 19 tahun 2009 tertulis dengan jelas “bahwa kawasan dan bangunan cagar budaya yang berada di Kota Bandung yang memiliki nilai kesejarahan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, terutama bangunan yang telah berumur lebih dari 50 (lima puluh) tahun yang memberikan ciri dan identitas peradaban perlu dilakukan perlindungan dan pelestarian” apakah tidak cukup untuk melindungi kolam renang tersebut dan cagar budaya lainnya ??? atau hanya sekedar ingin mencapai targetnya menjadikan Bandung kota Jasa dengan mengorbankan sejarah ??

Semoga “perubahan fungsi dengan menghancurkan bangunan asli” dapat dihentikan sehingga Sejarah dan bukti-buktinya dapat kita ingat dan bisa diceritakan kepada generasi mendatang.. Amin

Foto Kolam renang Centrum

Sumber : bandung.detik.com, bandungheritage.org, aleut.wordpress.com

Dipublikasi di Home | 2 Komentar

Cikapundung, sungai terpanjang didunia ??

Akang Haji, sorban palid
palidna ka Cikapundung ….

Sebuah syair lagu tentang sungai yang membelah kota Bandung, Cikapundung mengalir dari Hulu sungai yang terletak antara kecamatan Lembang dan Kecamatan Cilengkrang, yaitu berasal dari Curug Ciomas. Di kawasan utara menuju selatan yang bermuara di Citarum.

Mengapa sungai ini disebut sebagai sungai terpanjang didunia ?? ee.. karena ee karena sungai ini melewati Asia dan Afrika, atau lebih tepatnya jalan Asia Afrika. Sepanjang bantaran sungai ini telah padat oleh penduduk terutama pada kawasan Balubur dan Taman Sari, menjadikannya saluran “pembuangan sagala rupa” oleh warganya. Pernah saat ngAleut ada warga yang membuat kasur ke Cikapundung… (edan eta warga, tanpa dosa miceun sampah ka walungan) hanya bisa geleng-geleng kepala, kok bisa !!. Dulu juga banyak bertebaran “karamba” sepanjang sungai ini namun karena mengakibatkan pendangkalan maka dilarang oleh pemerintah.

Lalu berasal dari apakah nama Cikapundung itu ?? menurut T. Bachtiar nama tersebut berasal dari buah asam-manis seukuran kelereng, Kapundung (menteng dalam bahasa Indonesia). Mungkin saat itu buah tersebut banyak tumbuh di sekitar aliran sungai, sehingga dijadikan nama sungai CIkapundung.

Sumber : status Bp. T. Bachtiar di FB, Cikapundung.net

Dipublikasi di Home | Tinggalkan Komentar

Sumur Bandung, dimanakah itu ?

Air merupakan salah satu elemen terpenting dalam kehidupan, bisa dibayangkan kalau tidak ada air kemungkinan kehidupan pun tidak ada. Lalu dimanakah sumber air (sumur)  di Bandung ?.

Kalau anda jalan-jalan cobalah datang ke gedung PLN yang berada di jalan Cikapundung,  gedung yang kini bernama Bale Sumur Bandung karena disana terdapat sumur tertua di kota Bandung. Menurut informasi air untuk segala keperluan pembangunan gedung-gedung sekitar alun-alun Bandung diambil dari sana. Lalu bagaimana keadaanya sekarang ? untuk lebih jelas lihat aja foto nya.

Sumur Bandung

Sumur Bandung

Akan tetapi lokasi sebenarnya dari sumur bandung bukan disana, tetapi didalam lobi dengan altar setengah lingkaran berpagar dengan ornamen huruf “S”. Pemindahan dilakukan oleh Walikota Bandung Wahyu Hamidjaja pada tanggal 26 Oktober 1997, pemindahan dilakuka agar tamu-tamu yang ingin melihat sumur Bandung lebih leluasa.

Sumur Bandung ternyata tidak hanya ada disana namun ada dibeberapa lokasi seperti belakang bekas gedung Miramar, belakang gedung palaguna, di Pendopo, belakang Masjid Agung dan gedung Bank Escampto.

Namun seperti biasa pemerintah sibuk membangun dari pada memelihara peninggalan masa lalu, semoga kita dapat menjaganya.

Tong ka haling, tong ka harung
Merdekakeun sumur Bandung
Nu nutup urang suwaykeun
nu minding urang sieuhkeun
hawa ka jembaran rasa
baka cunduk ka inyana
tatapak pangembang pundak
ny seungit tur bingakit

Sumber : Pikiran Rakyat, Plezier Gedung Merdeka bareng komunitas Aleut
Yang punya foto : Sara Nuranisa

Dipublikasi di Home | 1 Komentar

Jual buku Sejarah pos dan telekomunikasi di Indonesia

Buku telah terjual, mohon maaf bagi yang berminat.

Dipublikasi di Home | 2 Komentar

Dewi Sartika, pejuang pendidikan Indonesia

Siapakah artis pop yang videonya paling banyak dicari di internet ?? ayo jawab… masa sih nggak tahu ama ni cewe yang selalu berbusana eksentrik dalam setiap tampil di umum.

Yes, she is Lady Gaga with 37,490,950 views di Youtube yang berhasil mengubah peta musik dunia dengan kualitas suara dan penampilan yang eksentrik, menjadikannya trendsetter musik pop saat ini. Lalu siapakah wanita “perkasa” yang mampu merubah cara pandang, mengangkat derajat serta kehidupan para wanita Indonesia ?? Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Home | Tinggalkan Komentar